Ilustrasi, sumber foto: Wikipedia
Jakarta dikenal dengan kesenian khasnya yang disebut ondel-ondel. Kesenian ini menjadi ciri khas masyarakat Betawi.
Ondel-ondel memang sudah lama menghiasi kota Jakarta, event-event besar di ibu kota juga kerap menampilkan ondel-ondel sebagai hiburan dan dikenal banyak orang.
Nyatanya ondel-ondel tidak hanya muncul begitu saja, sejarah mencatat lahirnya ondel-ondel sebagai kesenian khas masyarakat Betawi.
Kustopo dalam bukunya yang berjudul Mengenal Seni Nasional 6: Ondel-ondel yang terbit tahun 2008 menyebutkan bahwa secara historis ondel-ondel sudah ada sebelum 1.600 Masehi.
“Bukti ini tercatat dalam buku perjalanan yang ditulis seorang pedagang dari Inggirs yang bernama W Scot. Ia menulis adanya sebuah kebudayaan yang unik yang berbentuk boneka raksasa, yang dipertunjukkan oleh masyarakat Sunda Kelapa dalam sebuah upacara adat,” tulis Kustopo, Senin 15 Maret 2021.
W Scot, menurut Kustopo, saat itu tidak menuliskan nama boneka raksasa itu, melainkan diindikasikan sebagai ondel-ondel.
Boneka penolak bala yang mengusir penyakit di desa
Di penghujung abad ke-19, seorang turis Amerika yang datang ke Jawa dan lama tinggal di Batavia bernama E.R.Scidmore yang ditulis oleh Kustopo juga melaporkan hal yang sama.
Dalam bukunya yang berjudul Java, The Garden of The East, pertunjukan seni di Batavia saat itu berupa tarian yang diarak oleh masyarakat berupa boneka raksasa yang ditarikan diiringi musik seadanya.
Kustopo juga menulis bahwa menurut cerita turun-temurun para tetua adat Betawi, ondel-ondel sudah ada sejak zaman nenek moyang, dan dibuat untuk keperluan adat untuk menolak bala guna mengusir penyakit yang menyerang kampung.
Ondel-ondel dan budaya Hindu
Sejarah lain mencatat bahwa boneka ondel-ondel dianggap sebagai maskot Betawi dan diperkirakan sudah ada sejak ribuan tahun lalu, awalnya karena dipengaruhi oleh agama Hindu-Jawa.
Dari akarnya dalam agama Hindu, ondel-ondel dianggap sebagai penggambaran Dewa Brahma, Wisnu, Siwa dan istri-istri mereka yang dibuat dan dipersembahkan sebagai hadiah ketika orang Betawi mengunjungi daerah lain.
Catatan sejarah ondel-ondel ini merupakan versi buku Jakarta Membangun (1998) karya Badan Perencanaan Pembangunan Daerah DKI Jakarta, H Basri Rochadi.
Pendapat berbeda diungkapkan dalam disertasi Mita Purbasari Wahidiyat yang bertajuk Ondel-Ondel Sebagai Ruang Negosiasi Kultural Masyarakat Betawi (2019). Disebutkan bahwa ondel-ondel bernama Barongan.
Barongan tercipta saat masyarakat Betawi Pinggir masih bergelut di sektor pertanian. Namun seiring berjalannya waktu, ketika sektor industri dan jasa hiburan memasuki ranah Jakarta, pada tahun 1970-an Ali Sadikin, Gubernur Jakarta saat itu, mendeklarasikan ondel-ondel sebagai ikon Jakarta (Samantha, 2013). Barongan dibuat berpasangan pria dan wanita (Saputra, 2009: 60).
Belum ada yang tahu pasti kapan boneka raksasa ini muncul dalam kehidupan masyarakat Betawi. Namun, diduga Barongan sudah ada sejak abad ke-17 di Banten.
Hal tersebut dapat ditelusuri melalui tulisan W. Fruin Mees dalam buku Geschiedenis van Java edisi II yang menyebutkan seorang pedagang Belanda pada tahun 1605 melihat prosesi pengawalan Pangeran Jayakarta Wijaya Krama merayakan upacara khitanan Raja Banten, Abdul Mafakhir, yang saat itu berusia 10 tahun.
Konvoi terdiri dari 300 penjaga istana, 300 wanita membawa banyak hadiah berharga seperti emas, uang dan kain sutra, serta sepasang boneka raksasa (1920: 64-66). Boneka besar itu dianggap sebagai perwujudan danyang desa, penolak musibah.
Menengok kembali sejarah yang masih membawa pro dan kontra dalam peristiwa kebangkitan kembali masyarakat Betawi pasca kehancuran Batavia oleh Jan Pieter Zoon Coen disebutkan bahwa salah satu kelompok masyarakat yang dibawa ke Batavia adalah orang Bali.
Heuken dalam Historical Sites of Jakarta, dikutip Jo dalam artikel “Batavia Kota Budak”, 2017, menyebutkan bahwa orang Bali ditempatkan sebagai budak tenaga kerja untuk membangun Batavia setelah penaklukan Jayakarta. Sejak saat itu, banyak orang Bali yang menetap dan berkembang di Batavia.
Kemiripan tampilan barongan Betawi dan barong Bali kemungkinan besar dipengaruhi oleh budaya Hindu Bali. Barongan berawal saat masyarakat Betawi kuno masih meyakini kepercayaan bahwa segala sesuatu yang hebat memiliki kekuatan tak terbatas.
Barongan merupakan artefak budaya Betawi Pinggir - masyarakat Betawi yang banyak dipengaruhi oleh budaya Tionghoa dan Sunda, dan keberadaannya tidak diakui di Betawi Tengah - masyarakat Betawi dengan pengaruh budaya Islam dari Arab dan Melayu, pada masa itu (Lissandhi, 2010).
Hal ini karena terkait dengan kepercayaan bahwa Barongan bukan sekedar boneka raksasa, melainkan ada unsur magis di dalamnya.
Tinggi boneka ondel-ondel bisa mencapai tiga meter
Buku ini juga menyebutkan bahwa boneka ondel-ondel tingginya bisa mencapai 2-3 meter dan terbuat dari rangka bambu, serta badannya terbuat dari karton dan kertas.
Buku ini juga menjelaskan bahwa kelompok ondel-ondel beranggotakan 15 orang yang terdiri dari pemain musik, pemain ondel-ondel dan dikomandoi oleh dalang, serta menggambarkan perempuan dan laki-laki berpakaian perkawinan.
Ondel-ondel memiliki seseorang di dalam dan dikendalikan dari dalam. Kesenian ini juga sering dijumpai di Jakarta dalam sejumlah acara adat Betawi.
Situs Internet Bola Tangkas | BolaTangkas Android | Agen Bola Tangkas | Tangkas Dia
No comments:
Post a Comment