SELAMAT DATANG DI TANGKASDIA.DAPATKAN BONUS 10 % UNTUK DEPOSIT AWAL DAN CASHBACK 10 % MINGGUAN.
Our Game

Wednesday, March 24, 2021

Berikut 7 Tanda Orang Pernah Tertular COVID-19 Tanpa Disadari

 

Ilustrasi, sumber foto: AP/Tatan Syuflana


Jumlah orang yang terinfeksi virus corona jenis baru, SARS-COV-2, terus meningkat setiap hari di seluruh dunia. Setiap orang berpotensi terinfeksi.


Yang jelas, kini wabah COVID-19 semakin dekat dengan rumah kita. Setidaknya, tetangga, teman, atau bahkan keluarga tertular. Pertanyaan yang sering muncul adalah, apakah diri kita sendiri telah tertular tanpa disadari?


Itu mungkin terjadi. Mengapa? Pasalnya, tidak semua gejala COVID-19 parah dan membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit.


Menurut para ahli, ada beberapa tanda yang bisa menjadi petunjuk apakah seseorang telah terinfeksi COVID-19 secara tidak sengaja.


Disclaimer: tanda-tanda tersebut di atas berlaku untuk pasien dengan gejala COVID-19 ringan hingga sedang, ya, tidak untuk pasien yang tidak menunjukkan gejala apa pun.


1. Anda pernah mengalami flu yang parah


Beberapa gejala COVID-19 menyerupai atau bahkan menyerupai flu biasa. Penderita mengalami demam, radang tenggorokan, batuk, hidung tersumbat, pusing, hingga mual dan muntah. Coba ingat-ingat, pernahkah Anda mengalami gejala-gejala tersebut saat pandemi ini?


Data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat menemukan bahwa di setiap dua kasus flu, salah satunya adalah COVID-19. Oleh karena itu, jika Anda pernah terserang flu yang berlangsung lebih dari seminggu, kemungkinan besar itu adalah COVID-19.


Terlebih lagi, sulit membedakan antara gejala flu biasa dan gejala COVID-19 ringan hingga sedang. Satu-satunya cara untuk mengidentifikasinya adalah dengan melakukan tes, baik rapid test atau PCR.


2. Indera penciuman dan pengecap tidak berfungsi


Salah satu gejala unik yang dialami banyak pasien COVID-19 adalah hilangnya kemampuan untuk merasakan dan mencium (anosmia). Namun, gejala tersebut bahkan tidak terjadi pada semua pasien.


Saat ini anosmia masih menjadi indikasi kuat infeksi SARS-CoV-2.


Data dari American Academy of Otolaryngology menemukan bahwa gejala ini biasanya berlangsung dari seminggu hingga 10 hari. Namun, dalam beberapa kasus, pasien masih belum dapat membedakan antara rasa dan bau selama berbulan-bulan setelah sembuh.


3. Kelelahan yang tidak biasa dan tidak bisa dijelaskan


Kondisi lain yang dialami banyak pasien COVID-19 setelah sembuh adalah fatigue atau munculnya kelelahan yang berlebihan. Kondisi ini akan membuat tubuh terasa lemas, mengantuk, dan sulit melakukan aktivitas berat.


Sebuah laporan di jurnal JAMA Network mengatakan bahwa 53 persen pasien mengembangkan kondisi ini hingga 60 hari setelah virus menginfeksi tubuh. Menurut hipotesis, rasa lelah ini muncul sebagai akibat dari respon imun kita.


Namun perlu juga diketahui bahwa kelelahan tidak hanya terjadi pada pasien COVID-19. Masih banyak penyakit lain yang memiliki gejala seperti ini, seperti flu, anemia, diabetes, hingga depresi.


4. Anda batuk


Salah satu gejala utama COVID-19 adalah batuk dalam waktu lama. Secara umum, gejala-gejala tersebut muncul dari awal infeksi hingga 21 hari setelahnya. Batuk yang dialami penderita biasanya kering, tanpa ada dahak atau lendir. Kondisi ini seringkali menyebabkan nyeri dada.


Namun, seperti sebelumnya, gejala ini tidak hanya muncul pada COVID-19. Batuk juga terjadi saat Anda terserang flu, alergi, dan berbagai penyakit lainnya. Jadi, jangan jadikan kondisi ini sebagai satu-satunya indikator.


5. Terkadang, penderita juga merasa sesak napas


Masih ingat istilah long COVID? Ini adalah efek jangka panjang yang dirasakan pasien setelah pulih dari COVID-19. Salah satu kondisi yang sering terjadi adalah sesak napas.


Melansir Prevention, para ahli tidak dapat memastikan berapa lama kondisi ini berlangsung untuk pasien. Namun, rasa sesak biasanya berhenti saat peradangan di paru-paru sudah benar-benar membaik.


6. Apakah Anda mengalami kerontokan rambut tanpa alasan? Ini juga merupakan indikasi infeksi COVID-19


Masalah yang satu ini memang jarang terdengar oleh masyarakat luas. Namun menurut berbagai penelitian, rambut rontok merupakan salah satu efek infeksi COVID-19 yang sering terjadi pada survivor.


Menurut penjelasan di laman American Academy of Dermatology, kondisi yang disebut telogen effluvium terjadi akibat demam pasien. Rambut akan rontok lebih dari biasanya selama dua sampai tiga bulan setelah sembuh.


7. Anda sering sakit kepala


Sakit kepala bisa terjadi karena banyak hal. Namun, kondisi ini juga bisa menandakan bahwa Anda pernah terjangkit COVID-19. Menurut laporan laman Novant Health, sakit kepala yang terjadi setelah pasien sembuh sangat menyiksa.


Seluruh kepala terasa berat dan terasa seperti ditekan. Bahkan, rasa sakitnya terkadang menjalar ke leher dan bahu. Kondisi yang termasuk dalam efek jangka panjang COVID ini biasanya berlangsung dari beberapa hari hingga berbulan-bulan.


Perlu diketahui bahwa kondisi di atas juga bisa terjadi akibat penyakit lain. Oleh karena itu, walaupun Anda merasa mengalami tanda-tanda di atas, jangan terburu-buru mengambil kesimpulan ya. Anda masih bisa tertular lagi lagi jika Anda tidak hati-hati.


Langkah bijak menyikapi adalah disiplin dalam melaksanakan protokol kesehatan ya guys.

Situs Internet Bola Tangkas | BolaTangkas Android | Agen Bola Tangkas | Tangkas Dia

No comments:

Post a Comment